Beberapa hari yang lalu sebelum saya berangkat mengajar, ketika sedang mengambil air panas di dispenser untuk membuat sereal, tertonton oleh saya berita di TV tentang seorang anak SD yang meninggal karena bermain smack down bersama dua orang temannya di sekolah. Di badan anak yang meninggal tersebut terdapat memar-memar akibat kekerasan yang dilakukan oleh dua orang teman sesusianya, bahkan salah satunya adalah anak perempuan. Sambil lalu saya mendengar isak tangis ayah anak yang meninggal itu di TV. Tragis, itulah kata yang ada di pikiran saya saat itu. Kemudian saya meminum sereal saya dan berangkat ke preschool tempat saya mengajar.
Setibanya saya di sekolah, seperti biasa saya menyapa murid-murid kecil saya. Ketika saya memasuki kelas, saya melihat murid saya, sebut saja namanya Lara, sedang mengeringkan lantai yang basah dengan baju seragamnya. Saya dekati dia, terlihat air minumnya tumpah membasahi lantai kelas, dan ia sedang berusaha mengeringkannya dengan baju dan celana seragamnya. Saya berkata padanya, “Bukan begitu cara mengeringkannya. Kamu bisa mengambil kain lap dari meja dan mengeringkannya dengan kain lap itu. Kalau begini baju kamu jadi basah.” Kemudian saya menyalinkan bajunya. Ketika saya mengeluarkan baju bersih dari tasnya, dia berkata, “Dari semalam saya sudah bilang ke mami, saya mau pakai baju princess ini. Bagus ya, miss, baju princess saya.” Saat itu langsung terbersit di pikiran saya, ada kemungkinan dia menumpahkan minumnya dengan sengaja supaya bisa memakai baju princess-nya. Saya tanyakan pada dia, “Lara, minum kamu tumpah disengaja atau tidak?” Dengan cepat dia menjawab, “Aku tidak sengaja, miss.” Untuk memastikannya saya tanya dia sekali lagi dan jawabannya tetap sama, tidak sengaja. Tapi untuk benar-benar memastikan, saya tanyakan sekali lagi, “Coba kamu pikir-pikir lagi, tadi minum kamu tumpah sengaja atau tidak sengaja?” Tiba-tiba dia menjawab sambil menunduk, “Aku tidak tahu, miss.” Akhirnya saya berkata pada Lara, murid kecil saya yang berusia empat tahun itu, “Kalau kamu bohong, miss tidak bisa tahu kamu sedang bohong atau tidak. Kalau kamu tidak berbohong pun, miss tetap tidak tahu. Tapi ada yang tahu kamu berbohong atau tidak yaitu diri kamu sendiri.” Setelah berkata demikian, saya salinkan baju seragamnya yang basah dengan gaun princess-nya yang indah itu dan dia duduk kembali bersama teman-temannya.
Setelah beberapa menit, tiba-tiba Lara menangis sambil berkata “Saya tidak mau pakai baju princess ini. Saya mau tukar lagi dengan baju seragam saya.” Sambil bingung, saya berkata padanya, “Baju seragam kamu sudah basah. Pakai baju princess ini cantik, kok.” Tapi tetap saja dia menangis minta digantikan baju. Karena saya harus mengajar ke kelas lain, maka asisten guru yang menghibur Lara.
Siangnya, saya membacakan buku cerita moral tentang berbohong kepada murid-murid kecil saya, Lara juga ada di kelas itu. Saya bercerita tentang seorang anak perempuan yang suka sekali berbohong sampai tidak ada lagi yang percaya padanya. Yang lucunya, sepanjang saya membacakan buku cerita tersebut, Lara menundukkan kepalanya sambil memegangi baju princess yang dipakainya. Setelah saya selesai bercerita, dia mendatangi saya sambil berkata, “Saya tidak mau bohong lagi, miss.” Lalu saya berkata padanya, “Kalau kamu mau memakai baju princess kamu, bukan begitu caranya. Kamu kan bisa memakainya setelah pulang sekolah, teman-teman dan miss juga masih bisa melihatnya, kok.”
Kejadian Lara ini membuat saya teringat kembali berita di TV tentang anak SD yang meninggal ketika bermain smack down. Anak-anak SD itu tidak tahu yang mereka lakukan adalah hal yang berbahaya karena tidak ada yang memberi tahu mereka tentang hal itu. Mereka melakukan itu berdasarkan keinginan mereka untuk bermain dengan teman-teman. Sama dengan Lara, murid kecil saya, dia tidak tahu bahwa cara berbohong itu adalah hal yang buruk. Dia hanya mencari cara untuk mewujudkan keinginannya yaitu mengganti baju seragamnya sehingga ia bisa memakai baju princess-nya. Sangat sederhana, anak-anak SD itu dan juga Lara memiliki persamaan yang mendasar yaitu ingin mewujudkan keinginan-keinginan kecil mereka. Hanya saja mereka melakukannya dengan cara yang tidak benar.
Dua kejadian itu membuat saya merenung tentang betapa pentingnya bagi kita untuk mengajarkan moral-moral dasar kepada anak-anak kita bahkan kepada diri kita sendiri. Bayangkan bila anak-anak tersebut tumbuh besar dan keinginan-keinginan mereka pun bertambah besar, jika tanpa adanya peletakan nilai-nilai moral tentang hal baik dan buruk, mereka akan melakukan cara apa pun untuk memenuhi keinginan-keinginan mereka. Jika mereka sekecil itu bisa melakukan hal-hal seperti demikian untuk memenuhi keinginan-keinginan kecil mereka, untuk bermain bersama teman-teman dan berganti baju, apa bisa terbayangkan apa yang akan mereka lakukan kelak untuk memenuhi keinginan-keinginan mereka sewaktu dewasa? Apa jadinya jika saat itu tiba kita belum meletakkan nilai-nilai moral tentang hal yang baik dan buruk kepada mereka atau kepada diri kita sendiri? Maka tidak mengherankan terjadinya kasus korupsi, pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, dsb yang merajalela.Tapi selanjutnya akan muncul sebuah pertanyaan, nilai-nilai moral seperti apa yang bisa kita tanamkan untuk anak-anak kita dan bahkan untuk diri kita sendiri? Untuk menjawabnya, saya sertakan sebuah kisah perenungan berjudul “Tuan Dorma Muda Mencapai Pencerahan”. Nilai-nilai moral dalam kisah tersebut bisa dijadikan masukan sebagai bahan perenungan tentang nilai-nilai moral untuk anak-anak kita dan untuk kita sendiri.
Tuan Dorma muda sedang bermeditasi dalam. Dalam keadaan yang tenang dan ringan, di mana seolah-olah tuan Dorma muda berada di suatu tempat tanpa batas, begitu luas, tidak ada dinding-dinding yang membatasi dan tidak ada lantai yang ditapaki, tiba-tiba saja tuan Dorma muda mendengar suara lantang dari seorang nenek renta. Dengan nada suara tinggi, nenek renta itu berkata, “Gelas ini kotor sekali!” Lalu tuan Dorma muda melihat sebuah gelas kaca di dalam meditasinya. Gelas kaca itu begitu kotor di semua permukaannya, didalamnya penuh sarang laba-laba, debu dan kotoran yang menyelimuti. Gelas itu menjadi kusam dan tidak jernih.
Lalu masih di dalam meditasinya, tuan Dorma muda merenung, “Gelas kotor itu bagaikan tubuh ini. Jika tubuh ini kotor, penuh perbuatan keburukan dan tidak baik maka pikiran ini pun akan kotor dan tidak bersih. Bagaikan air murni yang dituangkan ke dalam gelas kotor itu maka airnya pun akan menjadi kotor, tidak lagi menjadi murni. Tetapi andaikan tubuh ini bersih dan penuh kebaikan maka pikiran murni yang akan berada didalamnya, bagaikan air murni yang dituangkan ke gelas bening maka air itu akan menjadi jernih bersinar.”
Tuan Dorma muda sadar bahwa tubuh ini yang memiliki lima indera yang senantiasa dipenuhi oleh keinginan-keinginan haruslah dikendalikan dengan latihan-latihan moral agar pikiran-pikiran yang baik dapat tumbuh didalamnya. Kemudian ia teringat kembali sebuah perenungan:
“Aku melatih diri menghindari pembunuhan.
Aku melatih diri menghindari pencurian.
Aku melatih diri menghindari perbuatan asusila.
Aku melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar.
Aku melatih diri menghindari segala sesuatu (makanan/minuman/obat-obatan) yang dapat melemahkan kesadaran.”
Latihan-latihan moral ini tertanam kembali di dalam dirinya dan menjaganya dari perbuatan-perbuatan keburukan. Hari itu tuan Dorma muda mencapai satu titik pencerahan.
Related posts:
- Jembatan Harapan Sore itu perasaan Gedok sedang sangat kelam. Sepulang dari kerja ia langsung menyelonong masuk ke rumah dan berbaring di ranjangnya....
- STOP Child Abuse NOW! Apa yang bisa menjadi penderitaan terberat dalam hidup ini? Pertanyaan ini seolah menggantung di kepala saya setelah sekian tahun melakukan...
- Pahami Permainan Pikiran Anda Entah mengapa perasaannya menjadi bad mood setiap kali Parjo mendengar tentang tetangganya yang memiliki bakul nasi yang penuh – di...
- Fenomena Alam Bawah Sadar Membengkak Dalam kehidupan ini pastinya setiap orang mengharapkan kebahagiaan. Seorang istri mengharapkan suami yang baik dan anak-anak yang manis. Seorang suami...
- How to Become A Touching Heart Leader Using Hypnosis Techniques? Pada saat saya menjadi speaker di sebuah talk show tentang Past Life Regression (yaitu memasuki kehidupan lalu menggunakan metode hypnosis)...